Pengalamanku Mengatasi Anak Susah Makan

Anak susah makan mungkin sudah terdengar biasa bagi banyak orang. Bahkan ketika saya membawa si Kecil ke dokter karena rasa khawatir memuncak, dokter dengan entengnya berkata, “Itu problem yang dialami hampir setiap orangtua.”

Atau, dokter lainnya berkata, “Mungkin kurang dipaksa Bu…”

Duh, kalau tidak terpaksa, untuk apa saya sampai pergi ke dokter??

Anakku kini berusia 4 tahun. Perjuanganku menghadapi anak susah makan dimulai sejak ia masih bayi.

Anakku hanya lahap pada beberapa minggu pertama ia menerima MPASI. Pada usia 9 bulan, ia menolak MPASI apapun yang aku berikan.

Idealismeku untuk tidak menambahkan garam pada MPASI pun luntur. Aku mulai memberikan sedikit garam atau kecap asin pada menunya.

Itupun tidak terlalu berhasil. Ia tetap melakukan gerakan tutup mulut dan membuatku stres.

Saat itu, inilah beberapa trik yang kulakukan untuk membuat bayiku mau makan. Untuk Bunda yang saat ini stres dengan ulah anak susah makan, cobalah berbagai cara yang pernah saya lakukan ini:

1, Mencoba berbagai variasi bahan makanan

Aku mencoba berbagai bahan makanan. Untuk asupan protein, mulai dari ayam, telur, sapi, ikan, hingga tahu dan tempe sudah kucoba, untuk melihat apa yang ia sukai.

Namun bila hari ini dia suka 1 macam makanan tertentu, belum tentu esoknya ia suka. Jadi jangan ragu untuk selalu mencoba kembali.

Untuk karbohidrat, aku mencoba nasi, kentang, roti, ubi, pisang, dan masih banyak lagi.Begitu juga untuk sayuran dan buah.

2, Mencoba berbagai variasi tekstur makanan

Ternyata bayi juga menyukai tekstur tertentu. Ada bayi yang suka tekstur sangat lembut, dan kadang ia juga menyukai yang lebih kental atau perlu dikunyah lama ataupun garing.

Dalam hal ini pun ia tidak terus menerus menyukai hal yang sama. Bila hari ini ia suka yang lembut, bisa saja esok hari ia suka yang garing.

3. Menambah rasa makanan

Cobalah mencampur bahan makanan yang ada rasanya ke menu utama. Misalnya mencampur pepaya ke dalam bubur tim yang telah matang agar terasa manis.

Walaupun terasa aneh untuk kita, mungkin bayi menyukainya.

4. Konsistensi

Bayiku mungkin memang aneh. Ia menyukai konsistensi rasa dan tekstur. Misalnya, saat ia sudah menyukai nasi lembek dengan sari daging sapi dan parutan wortel plus sedikit garam, ia hanya mau makan menu itu setiap hari, selama beberapa minggu.

Lucunya, saat aku memasaknya lebih asin sedikit daripada biasanya, ia tidak mau makan, walaupun menurutku tidak keasinan. Begitu pula sebaliknya, sedikit saja kurang wortel, ia tidak mau makan. Mungkin rasanya jadi sedikit berbeda.

Namun setelah beberapa minggu makan menu yang sama setiap hari, suatu hari ia berubah total. Ia tidak lagi suka menu itu, dan aku harus bereksperimen kembali untuk menemukan apa yang sedang ia sukai.

Setelah mendapatkannya, aku ulangi lagi menu itu beberapa minggu, hingga ia bosan dan menolaknya.

Begitu terus siklus yang aku jalani untuk mengatasi si anak susah makan ini.

Selanjutnya klik di sini untuk ke halaman 2.

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s